Berterima Kasihlah Pada Wahabi

Postingan kali ini lagi-lagi repost dari akun Fb Hasan Al Jaizy.
Semoga bermanfaat

[BERTERIMA KASIHLAH PADA WAHABI]

Ini hanya menanggapi status Qosim Ibn Aly, yang saya sendiri tidak berteman dengannya dan tidak tahu siapa dia, namun statusnya muncul di beranda. Entah, apakah memang dia dahulu teman FB namun ada removing atau bagaimana.

Sejam yang lalu, ia menulis sebuah status berjudul [TERIMA KASIH KU UNTUK WAHABI]. Entah pula, itu tulisannya atau bukan (copas dari orang); karena kerap orang semacam ini men-tahzhir orang agar tidak suka copas namun sendirinya Ahlu Copas.

Matan-matan ‘sejuknya’ akan saya ‘ralat’ sedikit.

================================

Qosim: “Dulu sekali, saya tidak tahu dalil tahlilan. Tapi sejak wahabi mengatakan tahlilan adalah amalan yang sesat, saya baru tahu dalil tahlilan.”

Hasan: “Dulu sekali, kamu memang tidak tahu dan tidak mau tahu dalil tahlilan. Tapi sejak Wahabi mengatakan tahlilan adalah amalan yang sesat, kamu baru (mulai) cari-cari tahu dalil tahlilan kemudian.”

Qosim: “Dulu sekali, saya tidak tahu dalil maulid Nabi. Tapi sejak wahabi mengatakan maulid adalah tasyabuh bil kufar, saya baru tahu dalil maulid.”

Hasan: “Dulu sekali, kamu memang tidak tahu dan tidak mau tahu dalil (Perayaan) Maulid Nabi. Tapi sejak Wahabi mengatakan (Perayaan) Maulid adalah ‘tasyabuh bil kufar’, kamu baru (mulai) tahu dalil maulid.”

Qosim: “Dulu sekali, saya tidak tahu dalil mendoakan orang mati. Tapi sejak wahabi mengatakan doa itu tidak samapai, saya baru tahu dalil sampainya. “

Hasan: “Dulu sekali, kamu memang tidak tahu dan tidak mau tahu dalil mendoakan orang mati. Tapi sejak Wahabi mengatakan doa itu tidak sampai, kamu baru (mulai) cari tahu dalil sampainya, dan ternyata: Madzhab SYAFI’IYYAH adalah Madzhab WAHABI! Dan karena tidak sesuai seleramu dan rekan-rekan, kamu mencari madzhab yang cocok dipakai; karena: “Ini perkara KHILAFIYYAH!”.”

Qosim: “Dulu sekali, saya tidak tahu dalilnya pelafalan niat sholat. Namun sejak wahabi mengatakan itu bid’ah yang sesat, saya baru tahu dalilnya.”

Hasan: “Dulu sekali, kamu tidak tahu dan tidak pernah mau tahu dalilnya pelafalan niat sholat. Yang penting ikut saja tradisi atau kalam ulama madzhab Syafi’i yang sejatinya bukan dalil. Namun sejak Wahabi mengatakan itu bid’ah yang sesat, kamu baru (mulai) cari tahu dalilnya. Ternyata tidak ada dalil kuat. Yang ada hanya ulama madzhab berpendapat. Namun, tentu saja kamu tetap main sikat. Yang penting: tetap sesuai adat.”

Qosim: “Oleh karena itu, kepada wahabi saya ucapkan banyak-banyak terimakasih, karena kalian adalah guru yang tak layak menjadi guru.”

Hasan: “Memang, Wahabi bukan gurumu. Rugi sekali punya murid sepertimu. Diberi dalil yang lebih kuat, pasti kamu lebih menyukai adat. Diberi wejangan dan nasehat, pasti kamu akan mencelat. Teruskanlah pengembaraanmu, nak. Anggap saja ini hadiah dari saya, meski tidak banyak:

http://diary-hasanel-jaizy.blogspot.com/2013/04/terima-kasih-aswaja.html?m=1

“Berterima kasihlah pada Wahabi; karena karena kehadiran Wahabi, kamu dan yang semacammu mulai melek mata dan malah semakin perkasa menegakkan bid’ah hasanah, pintar membantah, mahir bersandiwara dan semakin tega membuat inovasi dalam agama.”

Semoga tercurah hidayah-Nya padaku dan padamu, serta keumuman kaum muslimin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s