Sibuk? Semua orang juga. Namun, sejauh mana engkau mau berkorban?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Beberapa teman ada yang bertanya kepada kami, bagaimana cara mengatur waktu antara kuliah dan belajar agama? Apalagi fakultas kami, kedokteran, yang terkenal dengan jadwal kuliahnya yang padat. Sebenarnya jawabannya sederhana saja: pengorbanan.

Jika dibilang sibuk, semua orang juga pasti merasa sibuk. Anak kuliahan –fakultas apa pun- merasa sibuk dengan kuliahnya, tugas-tugasnya, laporan, kuis, ujian, dan berbagai hal lainnya. Yang tidak kuliah juga sibuk dengan bekerja, mengurus rumah, membantu orang tua, dan lain-lain. Mungkin, tidak ada orang yang merasa tidak sibuk, karena memang sebagian besar kita adalah egosentris, kepentingan dirinya adalah yang nomor satu. Namun, di tengah kesibukan itu, sejauh mana kita mau berkorban untuk keselamatan diri masing-masing di akhirat kelak?

Kebanyakan manusia saat ini begitu serius menekuni ilmu dunia. Rela merantau hingga ke pulau seberang, bahkan kalau bisa negeri seberang untuk meraih gelar tertinggi dalam akademiknya. Ini tidaklah salah, dan akan sangat bermanfaat bagi kaum muslimin jika ilmu tersebut memang ditujukan untuk kemaslahatan mereka, seperti ilmu kedokteran, teknik dan beberapa ilmu dunia lainnya. Namun, sangat disayangkan apabila mereka yang sudah bergelar doktor atau bahkan profesor tersebut, tidak memahami ilmu agama sama sekali. Padahal, ilmu inilah yang akan menjadi jalan keselamatan kita di akhirat kelak. Ketahuilah, di kubur nanti, kita tidak akan ditanya, “Apa obat untuk ini? Apa rumus untuk itu?”. Yang akan ditanyakan adalah, “Siapa Rabb-mu? Siapa nabimu? Apa agamamu?”

Sebagian kita betah berlama-lama duduk dan memperhatikan dosen saat kuliah. Namun, enggan untuk sejenak saja mendengarkan ceramah agama. Sebagian ada yang antusias sekali ketika diajak nonton, nge-mall, makan bareng. Namun, semangatnya entah ke mana ketika diajak duduk di majelis ilmu agama. Sebagian lagi betah untuk begadang membaca komik, novel, nonton film, nge-game. Namun, tidak betah ketika selembar saja membaca buku agama. Tidak, tidak semua dari kita harus jadi ustadz atau ustadzah. Namun, yang harus bagi kita adalah memahami ilmu agama yang membuat kita mengetahui hal-hal apa saja yang wajib dan hal-hal apa saja yang diharamkan.

Sebagai motivasi, kami ingin berbagi sedikit cerita, tentang seorang senior kami di kampus sekaligus ustadz kami di bidang agama. Saat ini beliau tengah menempuh pendidikan lanjutan yang mengharuskan untuk stand by di tempat tersebut dari pagi hingga sore. Beliau pun telah berkeluarga dan memiliki anak. Namun, di tengah kesibukan tersebut, beliau masih semangat mengurus dakwah, baik di kampus maupun di luar kampus. Pagi hari sebelum berangkat, beliau masih menyempatkan diri untuk mengajar ilmu agama. Sore dan malam harinya, beliau pun masih sempat mengisi kajian Islam. Akhir pekan yang seharusnya untuk keluarga pun terkadang harus tersita karena mengisi kajian maupun mengajar. Sekilas memang tampak berat di mata kita. Namun, begitulah pengorbanan beliau untuk agama ini. Hafizhahullahu ta’ala (semoga Allah menjaga beliau).

Maka melalui tulisan ini, kami mengajak semua dari kita untuk mau berkorban demi agama ini, demi keselamatan masing-masing dari kita di akhirat kelak. Karena dunia ini hanya sebentar, kawan. Waktu kita di sini, begitu berharga untuk sekedar dihabiskan dengan bersenang-senang saja.

[Al Amatul Faqiirah Ilallaah]

Copas dari takmirohibnusinafkugm.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s