Istiqamah di Akhir Zaman

Istiqamah. Suatu perkara yang mudah diucapkan, namun dalam pengamalannya tidak semudah yang dibayangkan. Terlebih di akhir zaman seperti sekarang ini. Zaman dimana fitnah dunia, terutama harta dan wanita, begitu kuat mengguncang iman seorang hamba. Telah banyak manusia yang tidak kuat menahan godaan tersebut dan akhirnya terjerumus dalam dosa.

Seorang Muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya hendaklah dia memperhatikan masalah keistiqamahan dirinya dengan porsi perhatian yang besar, baik dari segi ilmu maupun pengamalannya. Setelah itu, hendaklah ia tetap teguh dengannya sampai ajal menjemput dengan menyandarkan diri kepada Allah dan selalu meminta pertolongan-Nya.

Apa yang dimaksud dengan istiqamah? Secara sederhana istiqamah adalah terus komitmen pada kebenaran dan terus beribadah kepada Allah Ta’ala. Ada juga yang mengartikan istiqamah sebagai usaha menempuh jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus tanpa membengkok ke kanan maupun ke kiri. Hal ini mencakup ketaatan secara keseluruhan, baik lahir maupun batin, serta meninggalkan segala bentuk larangan.

Istiqamah bukanlah suatu perkara yang mudah. Istiqamah itu berat. Seorang ulama yang bernama Muhammad bin Al Munkadar sampai berkata, “Aku telah menahan diriku selama 40 tahun hingga aku bisa istiqamah.” (Hilyatul Auliya’, 3: 146). Namun, apakah itu berarti istiqamah adalah perkara yang mustahil? Insya Allah tidak. Dengan taufik dan hidayah dari Allah, istiqamah bisa kita raih.

Lalu, apa saja kiat agar kita bisa istiqamah? Jika ingin menjabarkan satu per satu, maka jawabannya bisa sangat panjang, bahkan bisa menjadi satu buku tersendiri. Namun pada tulisan ini penulis hanya akan membahas beberapa di antaranya.

Agar kita bisa istiqamah di jalan Allah, maka hal pertama yang harus kita yakini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah Allah tetapkan. Seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidaklah dia mendapatkan keburukan dalam hidupnya melainkan di belakang itu ada kemudahan. Hal ini merupakan janji Allah Azza Wa Jalla, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Perlu kita ketahui bersama bahwasanya istiqamah merupakan karunia dari Allah. Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Allah mengajak (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 25)

Istiqamah itu ada di tangan Allah. Barangsiapa yang menginginkannya, maka hendaklah ia memintanya kepada Allah, dan bersungguh-sungguhlah di dalam memintanya.

Kemudian di antara kiat agar bisa istiqamah adalah banyak bergaul dengan orang-orang sholeh yang akan senantiasa menghibur kita ketika kita sulit dan akan menasihati kita ketika kita terjerumus dalam maksiat, serta akan menganjurkan kita untuk senantiasa berbuat baik dan bersyukur ketika kita lapang. Persahabatan yang seperti ini akan berlangsung di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Azza Wa Jalla sebutkan bahwa orang yang bersahabat di dunia ini satu sama lain di akhirat akan berseteru dan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bersahabat karena ketaqwaan kepada Allah Azza Wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az Zukhruf: 67)

Jika kita telah bisa istiqamah dalam menjalani hidup ini, ada beberapa hal (namun tidak terbatas pada apa yang akan disebutkan) yang perlu kita ingat dan camkan di dalam hati kita, bahwasanya seseorang yang sudah mampu untuk istiqamah tidak boleh merasa hebat dengan amalannya, tertipu dengan amalannya, dan merasa ujub (bangga).

Selain itu kita juga harus menjauhi faktor-faktor yang dapat menjadi penghalang atau bahkan pemutus keistiqamahan. Di antaranya adalah syubhat dan syahwat. Syubhat adalah penyakit yang berkaitan dengan aqidah dan pemikiran yang menyimpang, sedangkan syahwat adalah penyakit yang berkaitan dengan hawa nafsu. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:

“Rasulullah membuat garis dengan tangan beliau, lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau membuat garis-garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang sesat. Tak satupun dari jalan-jalan ini, kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Garis-garis di kanan dan kiri itu adalah syubhat dan syahwat yang selalu menghalangi manusia dari istiqamah di jalan Allah. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap kedua hal ini.
Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dari penyakit syubhat dan syahwat sehingga kita bisa istiqamah di jalan-Nya hingga akhir hayat kita. Aamiin

Daftar Pustaka
http://rumaysho.com/qolbu/takjublah-pada-orang-yang-bisa-istiqomah-3714
http://muslimah.or.id/aqidah/menjadi-muslimah-yang-istiqamah.html
http://www.radioassunnah.com/cara-agar-hati-dan-keimanan-kita-tetap-kuat/
– Majalah Al Furqon edisi 124, Jumadil Ula 1433H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s