Muhasabah Bagi Aktivis Dakwah

MUHASABAH BAGI AKTIVIS DAKWAH

Edisi muroja’ah dan revisi

Tergesa-gesa Dalam Mengajar Sebelum Menghasilkan Ilmu yang Cukup dengan Alasan Dakwah.

DR. Nashir Al-‘Aql berkata:
“Di antara kesalahan yang harus diperingatkan dalam masalah fiqh adalah memisahkan dakwah dari ilmu”. Hal ini banyak ditemukan pada pemuda. Mereka (Pemuda) berkata: “Berdakwah berbeda dengan menuntut ilmu.” Oleh karena itu, kita banyak menemukan para pemuda yang sangat memperhatikan amaliah dakwah, bahkan memberikan semua kesungguhannya. Akan tetapi, mereka sangat sedikit dalam menghasilkan ilmu Syari’at, padahal kebalikannya itulah yang benar. (Yaitu) Hendaklah seseorang menuntut ilmu dan ber-tafaqquh dalam agama dan menghasilkan ilmu syari’at, kemudian baru berdakwah.” (Al-Fiqh fi Ad-Diin, hlm. 58)

Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Apabila seseorang yang dangkal ilmunya mengajar, ia akan terluput dari ilmu yang banyak.” (Fath Al-Bari, 1/166).

Imam Asy-Syathibi berkata:
“Orang yang bertanya tidak boleh bertanya kepada orang yang jawabannya tidak bisa dianggap dalam syari’at, karena sama saja ia menyandarkan kepada orang yang bukan ahlinya.” Ijma’ Ulama tidak membenarkan sikap seperti itu bahkan secara nyata tidak mungkin, karena orang yang bertanya kepada orang yang bukan ahlinya sama saja ia berkata kepadanya: “Kabarkan kepadaku tentang apa yang engkau tidak ketahui dan aku akan menyandarkan urusanku kepadamu dalam perkara yang sama-sama kita tidak mengetahuinya.” Orang yang seperti ini tentu tidak termasuk orang-orang yang berakal, karena jika ia berkata kepadanya: “Tunjukkan aku ke jalan menuju tempat si fulan.” Sementara ia tahu bahwa seseorang yang ia tanya sama-sama tidak mengetahui, tentu ia dianggap orang gila. Oleh karena itu, tidak boleh atasnya (menanyakan) urusan syari’at (kepada orang yang tidak tahu) karena akan berakibat kepada kebinasaan akhirat.” (Al-Muwafaqaat, 4/192-193)

Syaikh Salim berkata:
“Engkau lihat orang yang bodoh merasa puas dengan ilmu yang tidak diberikan padanya (ia tidak memiliki ilmu apa-apa). Lalu ia memposisikan dirinya sebagai tempat rujukan fatwa sehingga ia dikuasai oleh rasa ‘Ujub. Ia pun melecehkan para ulama besar dan menganggap bodoh fatwa-fatwa mereka, maka ia menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Azza wa Jalla.” (Irsyad Al-Fuhul, hlm. 359-360)

(Dikutip dari buku Memahami Ilmu, Mendulang Kebenaran, Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc)

Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua. Jangan sampai kita merasa berada dalam jalan yang benar, namun kenyataannya kita sedang merusak agama ini dengan kebodohan kita yang tergesa-gesa untuk berdakwah sebelum memiliki ilmu.

Wahai saudaraku, jawablah dengan jujur: “Jika engkau ingin mempelajari matematika namun engkau memilih guru bahasa apakah itu hal yang tepat? Tentu itu sebuah kebodohan.”

Ingatlah perkataan seorang Tabi’in, yaitu Muhammad bin Sirin:

“Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari mana kau mengambil agamamu”

Apakah kita mau mengambil ilmu dari orang yang ternyata sama-sama tak memiliki ilmu seperti kita? Sungguh jika demikian kita tetap beragama di atas kebodohan.

Dan bagi para aktivis dakwah, apa kita ingin menyamakan diri kita dengan ulama terdahulu? Coba bandingkan, jika para ulama terdahulu menghabiskan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu, lantas lihat bagaimana dengan kita yang hanya seminggu sekali atau sebulan sekali yang hanya dalam waktu paling lama 2 jam lalu sudah merasa berilmu dan merasa layak untuk berdakwah sebelum memiliki ilmu yang cukup. Allahul Musta’an

Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal-hal buruk tersebut.

(copas)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s