Kenangan Ust Arifin Badri Nyantri di Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran

Dari Dr Muhammad Arifin bin Badri hafizhahullah

Kenanganku Nyantri Di Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran (Thn 1990-1995).

Sepahit apapun masa lalu, bila dipandang kembali hari ini maka terasa sejuk dan indah. Rasa pahit yang kala itu, tiada lagi terasa dan yang tersisa keindahan dan manisnya, bahkan pahitpun seakan terasa manis.

Diantara masa lalu yang pernah saya lalui ialah menimba ilmu di Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran. Sungguh pesantren yang super, dengan hasil kerja ahli ahli ilmu yang super pula.

Sebut saja, saya pernah diajar oleh ulama’ ulama’ hebat di negri ini:
Ustadz Ja’far Umar Thalib, Ustadz Yusuf Utsman Ba’isa, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz, Ustadz Umar As Sewed, Ustadz Fariq bin Qasim Anuz, Ustadz Ubaidillah Mashadi, Ustadz Muhammad Wujud, Ustadz Humaidi Abdul Karim, dan masih banyak lagi.

Sejak awal di pesantren ini, saya dan juga semua santri diajari bahwa kita harus belajar manhaj salaf, dan akidah ahlissunnah wa al jamaah.

Namun demikian, diantara hal pahit yang saya rasakan kala itu, diajak mengikuti manhaj salaf namun ternyata kita diajari kitab kitab yang nyata nyata bertentangan dengan manhaj salaf, semisal: Fi Zilalil Qur’an, Ma’alim Al Inthilaqatul Kubra, Al Ghuraba’ Al Awwalun, dan buku buku tulisan Dr Salman Al Audah, Hasan Al Banna, Safar Hawali, Muhammad Qutub, dll.

Dulu, dikalangan santri beredar paham bahwa Masjid Pandowo adalah masjid Dhirar, dan pemerintah yang ada adalah Thagut, dan lain sebagainya.

Sampai pada suatu hari, beberapa kakak kelas kami diterima di Islamic University Of Madina, dan tatkala mereka berlibur, mereka membawa sengatan petir, dan menyampaikan kepada kami termasuk kepada para ustadz kala itu bahwa kitab-kitab di atas dan tokoh tokoh di atas sejatinya adalah pendiri dan tokoh tokoh pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Ya, bagaikan petir di siang bolong, sepontan penghuni pesantren yang sedari awal mendoktrin santrinya sebagai ahlussunnah dan salafy, ternnyata jauh panggang dari api.

Tak ayal lagi, informasi tersebut menimbulkan gejolak, yang berakibat pada keluarnya beberapa ustadz, dari pesantren.

Namun pelan dan pasti, sedikit demi sedikit, fakta tersebut dapat diterima dan arah serta pemahaman para ustadz berkembang dan berubah, terlebih semakin banyaknya alumni pesantren yang diterima di Islamic University Of Madinah.

Kondisi serupa juga terjadi pada para ustadz ustadz yang saya sebut di atas, dari mereka ada yang menyadari keterbatasannya, sehingga ada yang pergi ke Saudi Arabia untuk menimba ilmu kembali, semisal Ustadz Muhammad As Sewed, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz, Ustadz Muhammad Wujud, Ustadz Fariq bin Qasim Anuz, dan lainnya.

Sepulang mereka dari Saudi Arabia, nampaklah dengan jelas perubahan pada keilmuan, pemahaman dan loyalitasnya. Tidak lagi mengajarkan kitab kita di atas, dan ulama’ rujukannya juga benar benar berganti, menjadi Syeikh Al Abani, Ibnu Baz, Muqil bin Hadi, Sholeh Fauzan dll.

Mulailah gambaran dan fakta tentang manhaj salaf nampak dengan jelas, dan perubahan yang sangat mendasar mulai terasa, dan hasilnya kini, pesantrenku yang tercinta benar-benar telah memahami, mengajarkan, dan dikelola oleh para akumni yang benar benar belajar dan mengajarkan manhaj salaf, demikian yang saya lihat dan saya ketahui, semoga apa yang saya sampaikan ini sesuai dengan fakta, dan hanya Allah Ta’ala yang akan menghisap amalan mereka dan amalan kita semua.

Pada kesempatan ini, saya merasa perlu untuk menyampaikan apesiasi kepada teman teman kakak kelas saya yang telah menjadi pembawa sengatan petir sehingga membawa perubahan yang sangat signifikan pada pesantren Al Irsyad dan para ustadznya kala itu Dan secara khusus perlu saya sebutkan, sebagai bentuk ucapan termakasih saya sebagai adik kelas dan juga sebagai teman seperjuangan.

Al Ustadz Usamah Mahri, Ainurrofiq, Mubarak Bamuallim dll adalah diantara kakak kelas yang getol menyampaikan berbagai informasi, bahkan termasuk membimbing saya selama saya kuliah bersama mereka di Islamic University, dengan mengenakan saya ke beberapa syeikh termasuk Syeikh Rabi; bin Hadi Al Madkhaly, Muhammad Al Madkhaly, Ibrahim Ar Ruhaily, Sholeh As SUhaimy, Abdul Muhsin Al Abbad, dll . Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka semua dengan pahala yang melimpah.

Apa yang saya sampaikan di sini, bukan berarti menafikan peran ustadz ustadz lain semisal ustadz Aunurrafiq Gufran di Gresik dan juga Ustadz Buya Jufri di Pekanbaru, Ustadz Abu Nida’, Ahmas Faiz dll yang juga telah membawa banyak perubahan pada arah dakwah di Indonesia.

Saya hanya menceritakan pegalaman pribadi dan juga kenangan masa lalu di pesantren tercinta Pesantren Islam Al Irsyad yang kini telah menjadi percontohan bagi banyak pesantren dan lebaaga pendidikan islam dalam mengembangkan pendidikan yang bernafaskan akidah ahlussunnah, dengan pemahaman salafussholeh. Semoga Allah senantiasa menjaga pesantrenku tercinta dan juga sekolah sekolah Islam lainnya agar tetap istiqomah dalam mengajarkan Islam dengan manhaj salaf . Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s