Dospem Impian

Gak kerasa sebentar lagi udah mau semester 8 aja. Ini artinya sebentar lagi -insya Allah- saya harus ngerjain skripsi. Ngomong-ngomong masalah skripsi pasti berhubungan dengan dosen pembimbing (dospem). Naah.. postingan kali ini akan sedikit membahas ttg dosen pembimbing impian versi saya. Sedikit recall ke postingan sebelumnya yg ttg paper itu, ketika Pak Imam memposting link paper terbarunya ke sebuah grup WA, saya pun merespon dengan bertanya, “Ini aslinya skripsi Azu, mahasiswa bimbingan Pak Imam kan ya?” Bukannya menjawab iya atau bukan, jawaban beliau membuat saya speechless. Beliau malah menjawab dengan “Umar pengen aku bimbing juga? (lengkap dengan emoticon senyum di WA)”. Melihat jawaban beliau yang di luar dugaan, saya pun menjawab “Wah mau dong pak (kalau bisa), lengkap dengan emoticon senyum di WA juga. Perbincangan pun berlanjut sampai beberapa chat berikutnya, bahkan sampai ada beberapa alumni yang ikut ngasih saran dan bongkar “rahasia”. Sebenernya bukan rahasia juga sih, tapi Pak Imam menganggapnya rahasia. Pak Rizki, salah seorang dosen Manajemen sekaligus temennya Pak Imam, bercerita bahwa beliau pernah bilang ke mahasiswa bimbingannya kalo bimbingan sama dia santai, tapi gak jamin dapet A. Kalo mau pasti (beneran pake “pasti” loh kata beliau) dapet A ganti aja ke Pak Imam, tapi ya kerja keras. Melihat tanggapan Pak Rizki tsb, Pak Imam merespon dengan, “Jangan buka rahasia dong, ntar Umar gak jadi lhoo”. Saya pun cuma bisa bilang, “Wkwk.. diri ini emang harus dipaksa pak. Kalo ngga nanti leha-leha.”.

Ya.. itulah sebagian gambaran percakapan yg terjadi di grup setelah Pak Imam memposting paper terbarunya. Setelah perbincangan itu terjadi, saya jadi mikir (mengambil pelajaran dari beberapa teman saya yg ngambil skripsi di semester 7), kayaknya emang harus ada motivasi lebih untuk ngerjain skripsi supaya bisa kelar dalam satu semester. Salah satu motivasinya adalah dosen pembimbing yg klop dengan kita. Nahh.. alasan saya menyebut Pak Imam sebagai dosen yg klop buat dijadiin dospem adalah karena prestasi beliau dan kesamaan “frekuensi” kita.

Jadi Pak Imam ini adalah salah satu dosen terbaik yang dimiliki oleh Departemen Manajemen FEB UI. Beliau sudah mempublikasikan beberapa paper yang sudah terindeks di jurnal internasional. Selain itu beliau juga sudah menulis (menjadi co-author) sebuah atau beberapa buku (saya tidak tau persis jumlahnya) yang diterbitkan oleh penerbit internasional, seperti Wiley. Karena prestasinya ini beliau pernah meraih penghargaan peneliti muda terbaik Depma (departemen manajemen) tahun 2015 (kalau tidak salah). Penghargaan di tingkat universitas pun pernah beliau raih. Pokoknya secara keilmuan dunia beliau ini sudah tidak diragukan lagi deh, insya Allah.

Nah.. selain berprestasi dari sisi akademik, Pak Imam ini juga termasuk orang yg “kokoh”. Kokoh di sini maksudnya kokoh dalam hal manhaj. Beliau adalah salah satu alumni UI yg kokoh dalam menetapi manhaj salaf, bisa juga diartikan tidak mudah goyah oleh syubhat-syubhat dari manhaj lain. Hal ini berdasarkan pengamatan saya selama berada satu grup dengan beliau dengan cara mengamati jawaban-jawaban beliau ketika ada sebuah isu dilontarkan di grup.

Selain berprestasi di bidang ilmu dunia, beliau juga bisa (atau mungkin bisa disebut pakar) Fiqh Mu’amalah. Bukan hanya itu, Pak Imam memiliki hubungan yg dekat dengan salah seorang ustadz pakar fiqh mu’amalah, yaitu Ustadz Erwandi Tarmizi. Mereka berdua menjadi pengajar di Sekolah Mu’amalah Indonesia (SMI). Lebih dari itu, ust Erwandi juga menjadi penasihat dari sekolah Islam Daarul Ilmi yang dirintis oleh Pak Imam.

Dari sedikit pemaparan saya ttg Pak Imam di atas, jadi jelas kan kenapa saya menyebut beliau sebagai dosen pembimbing impian. Kalo belum mudeng.. hmm terlalu. Jadi intinya beliau menjadi dospem impian versi saya karena keilmuan, baik ilmu dunia maupun ilmu agama, dan kekokohan beliau di atas manhaj salaf. Tapi ada satu masalah. Beliau backgroundnya manajemen, sedangkan saya ilmu ekonomi (Islam). Perbedaan latar belakang ini cukup menjadi pertimbangan buat saya. Ya.. semoga saja saya bisa menemukan topik yg dapat mempertemukan dua latar belakang yg cukup berbeda ini. Aamiin… Sahhalallahu lana umurana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s