Tentang Akhawat yang Menjaga Diri

Kemarin pagi saya membuka twitter. Iseng-iseng coba ngeliat akun twitter milik, sebut saja, fulanah. Ketika membuka profil twitternya ternyata… saya sudah diblok oleh fulanah! Saya cukup kaget dengan keputusannya itu. Saya merasa tidak memiliki salah apa-apa pada fulanah. Namun, saya mencoba untuk husnu zhon. Pagi ini, saya akhirnya mendapatkan jawaban dari kehusnuzhonan saya. Benar saja, ternyata di bio twitter fulanah terdapat pernyataan “Akhwat only”. Okay… that’s okay.

Dari kejadian di atas, saya jadi teringat kembali ketika saya di-unfriend oleh 2 orang (akhwat) senior saya di SMA. Yang satu berinisial NAA dan yg lainnya berinisial RC. Kak NAA ini adalah senior saya di Smansa dan di FEB. Dia lulus dari Smansa tahun 2010 dan melanjutkan studinya di jurusan Akuntansi UI angkatan 2010. Dia sempat menjadi asdos saya selama 2 semester untuk 2 mata kuliah yg berbeda. Hubungan kami baik-baik saja, hubungan antara senior dan junior serta mahasiswa dan asdos. Namun, pada suatu hari saya kaget melihat saya sudah tidak berteman lagi dengannya di fb. Saya sempat berpikir, apa salah saya sehingga kak NAA yg saya kenal orangnya baik ini sampe meng-unfriend saya. Saya hanya bisa berhusnu zhon saja. Akhirnya pada suatu hari saya mendapati jawaban atas keputusannya meng-unfriend saya. Ternyata kak NAA hanya menerima pertemanan dari akhawat. Saya tidak tau apakah keputusan ini dia buat karena dalam beberapa waktu yg akan datang (saat itu) dia akan menikah, atau apa. Namun.. ya sudahlah. Toh ikhwan yg di-unfriend bukan hanya saya saja. Saat ini, hubungan kami baik-baik saja (dan semoga tetap baik-baik saja).

Orang kedua yg meng-unfriend saya di fb adalah RC. Kak RC ini adalah senior saya juga di smansa. Dia angkatan 33 (lulus 2012), tepat satu tahun di atas saya yg angkatan 34. Kisahnya juga kurang lebih sama. Dia meng-unfriend saya, namun saya tidak tau apakah keputusannya itu ada kaitannya dengan kak RC yg dalam beberapa waktu yg akan datang (saat itu) akan menikah. Orang yg di-unfriend oleh dia ternyata bukan cuma saya saja. Hal ini saya ketahui ketika melihat mutual friends kami. Saya tidak melihat satu pun akun fb dari senior (ikhwan) saya di smansa. Saya hanya mendapati akun-akun senior akhawat.

Pelajaran yg bisa saya ambil dari kisah dibloknya akun twitter saya dan di-unfriendnya akun fb saya adalah… bahwasanya akhawat salafiyyah (ya, mereka bertiga adalah akhawat bermanhaj salaf) adalah wanita-wanita yg benar-benar menjaga diri mereka, sampaipun di media sosial atau dunia maya secara umum. Mereka ingin menjaga batasan-batasan syariat dalam hal hubungan dengan lawan jenis, dalam hal ini laki-laki ajnabi. Terlebih ketika mereka sudah memiliki suami. Saya pribadi tidak masalah kalo memang itu alasannya, karena saya mengerti hal itu. Bahkan saya merasa kagum dengan keputusan mereka, yg mana hal itu malah membuat mereka spesial dibandingkan akhawat dari manhaj lain.

Pada akhirnya.. jika kalian ingin mencari akhwat untuk dijadikan istri dan penyejuk mata, maka carilah akhwat salafiyyah. #nogalau

Di sore hari, di tengah hujan yg cukup deras

Depok, 25 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s